Internalisasi Sifat-sifat Ilahi

Internalisasi Sifat-sifat Ilahi.

Selasa, 15 Februari 2011 10:07 WIB

Dalam idiom keagamaan terdapat kata Khalik dan makhluk. Khalik adalah pencipta, sementara makhluk adalah yang diciptakan. Dalam pengertiannya yang mutlak, istilah Khalik hanya mengacu pada Tuhan, sementara makhluk mengacu kepada semua realitas selain diri-Nya. Di antara sekian banyak ciptaan itu adalah manusia yang paling tinggi dan prima kedudukannya. Dalam Alquran bahkan disebutkan secara tegas bahwa manusia merupakan makhluk yang mendapatkan percikan Ruh-Nya.

Dalam riwayat hadis juga disebutkan bahwa manusia diciptakan sesuai dengan citra Tuhan. Innallaha Khalqa adam ala Shuratihi (Sungguh, Allah menciptakan manusia sesuai dengan citra-Nya). Fakta empiris juga menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk paling unik yang tak pernah selesai difahami dan didefinisikan. Definisi manusia yang dihasilkan ilmu politik, akan jauh berbeda dengan definisi ilmu ekonomi. Definisi manusia dari ilmu sosial jauh berbeda dengan definisi ilmu agama, sehingga sampai sekarang pun manusia masih belum bisa memotret dirinya secara utuh dan menyeluruh. Man the unknown, manusia makhluk yang tetap mengandung misteri yang tak terfahami.

Pertanyaannya, kenapa manusia bisa demikian istimewa sehingga sulit diberi definisi yang memuaskan semua pihak? Karena manusia memiliki unsur-unsur Ilahi dalam dirinya. Manusia bagaikan baying-bayang Tuhan yang menyejarah, yang hidup dalam ruang dan waktu. Manusia adalah mikrokosmos yang memiliki daya tampung yang luar biasa besar, melebihi makrokosmos yang ia tempati. Karena itu dalam adagium tasawuf disebutkan bahwa manusia ibarat seekor belalang kecil yang menempel pada dahan salah satu pohon, tapi pengetahuannya jauh melampaui luasnya hutan itu sendiri.

Sebagai mahkluk yang diciptakan dengan citra Tuhan dan mendapatkan percikan Ruh-Nya, maka logis kalau manusia memiliki unsur-unsur Ilahi dan kemiripan sifat dengan penciptanya. Hanya saja Allah Maha Absolut, sedangkan sifat-sifat Ilahi yang ada pada manusia merupakan anugerah-Nya yang bersifat relatif. Manusia memiliki kemampuan mengetahui, tetapi Allah maha Mengetahui. Manusia mampu mencipta, tetapi Allah Maha Pencipta. Manusia mendengar, Allah Maha Mendengar, dan seterusnya.

Unsur-unsur Ilahi ini sejatinya adalah instrumen yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia supaya bisa menginsafi hakikat dirinya, untuk selanjutnya mengenal, mendekati, dan menjalin hubungan dengan Tuhan yang merupakan asal-usul dan tempat kembali. Unsur-unsur itu adalah instrumen yang ditanamkan dalam diri manusia, sehingga dia mampu menerima pancaran cahaya Ilahi. Ketika manusia sudah mengenal, mendekat dan mencintai Tuhan, maka selanjutnya akan terjadi limpahan energi Ilahi yang menggerakkan dan mengarahkan perilaku manusia. Karena natur manusia itu fitri, hanif, dan memiliki banyak kesamaan dengan pencipta-Nya, maka seorang muslim mestinya semakin memiliki sifat kasih sayang mengingat seorang muslim paling banyak menyebut dua sifat itu.

Singkatnya, relasi antara Tuhan dan manusia ini bisa diilustrasikan dengan besi yang ditempelkan dan digosok-gosokkan pada magnet. Pada mulanya, besi itu hanyalah penerima yang secara pasif hanya bisa pasrah ditarik oleh magnet. Tapi semakin lama digosok, partikel penyusun besi secara otomatis akan teratur seperti partikel magnet, sehingga besi yang tadinya hanya bersifat pasif, sekarang berubah menjadi aktif dan mampu menjadi magnet baru walaupun kualitasnya tidak setara dengan magnet yang asli. Inilah yang disebut sebagai Takhalluq bi akhlaqillah. Melakukan internalisasi sifat-sifat Ilahi ke dalam diri kita.

Proses mengenal dan internalisasi ini berbeda dengan proses mengenali dan memasukkan sari pati makanan untuk tubuh. Untuk mengenal makanan, kita cukup mengetahui, memiliki, kemudian memakannya sehingga makanan itu masuk ke tubuh kita. Tetapi untuk meniru sifat-sifat Allah perlu kerja keras, dan sifat itu sulit masuk kalau diri kita kotor. Kotoran itulah yang menjadi tutup, cover, dan orang yang tertutup hati dan pikirannya disebut kafir, sehingga cahaya kebenaran Ilahi sulit bekerja dalam dirinya. Jika dicermati, sifat dan nama Allah dalam Alwuran secara garis besar terbagi dua, ada yang bernuansa feminim dan ada yang bercorak maskulin. Semua nama atau sifat itu terangkum dalam asmaul husna yang berjumlah sembilan puluh sembilan. 

Hakikat dan Dzat Allah sesungguhnya tidak perlu nama dan nama apapun tidak akan cocok dilekatkan pada-Nya. Tetapi nama dan sifat Allah diperlukan bagi manusia, sebab tanpa nama dan sifat kita sulit memahami dan mendekati-Nya. Bayangkan, seandainya dalam kehidupan ini tidak ada nama, maka sulit membangun relasi pengetahuan. Kita sulit membedakan antara entitas satu dengan entitas yang lain. Lebih dari itu, tidak akan tercipta sebuah tatanan dan tidak ada ilmu pengetahuan. Di sinilah letak nilai-nilai edukasi dan relasi di balik nama Tuhan.

Dari nama-nama Tuhan itu pula kita dapat mengenal dan meneladani sifat Tuhan untuk selanjutnya dapat kita tiru dan praktikkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Melalui nama-nama Tuhan kita merasakan kehadiran Tuhan yang selalu dekat dan bersama dengan kita, sehingga aktifitas kita selalu merasa terawasi, terjaga  dan terdeteksi oleh-Nya.

Berkaitan dengan nama ini, maka menjadi penting orangtua memberi nama yang bagus dan bermakna pada anak-anaknya karena nama juga mengandung doa dan harapan. Dengan adanya nama baik pada manusia, benda maupun hewan maka kita sangat terbantu untuk memahami dunia sekitar dan membangun klasifikas serta relasi. 

Komaruddin Hidayat
Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta.

FE4FFVVPFSVX

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s