ANTARA SEPEDA MOTOR DAN BBM

WACANA PEMBATASAN PREMIUM

Wacana pembatasan premium beberapa hari ini menjadi topik pembicaraan di media televisi, dengan asumsi peningkatan jumlah kendaraaan roda dua yang membengkak setiap tahunnya dan menyedot subsidi BBM dalam APBN Pemerintah sehingga dengan pembatasan ini diharapkan mengerem laju pertumbuhan sepeda motor yang menjadi sumber kesemrawutan baru di jalan-jalan kota-kota besar.

Bagi rakyat kecil, fasilitas mendapatkan kredit sepeda motor yang begitu mudah hanya dengan uang muka dibawah 1 jutaan bisa memiliki motor menjadi pemicu, satu sisi masyarakat diuntungkan dengan semakin menjamurnya leasing dan dealer dengan uang muka serendah-rendahnya uang muka, tetapi disisi lain menimbulkan efek sepinya para penumpang kendaraan umum dan semakin semrawutnya jalanan. Efek lainnya angka kecelakaan sepeda motor dan pencurian semakin meningkat, walaupun selama masa kredit ini ada jaminan asuransi bila terjadi hal tersebut tetapi tetap saja masyarakat dirugikan karena sifatnya hanya pinjam pakai sementara dari pihak leasing.

Alternatif menggunakan motor bagi kalangan masyarakat karena alat transportasi inilah yang paling efektif, mulai dari cara kepemilikannya yang mudah, irit bahan bakar, mudah menjangkau jalan sempit, bisa menembus kemacetan dan terjangkau oleh kantong golongan ekonomi lemah sehingga motor bukanlah menjadi barang yang mewah saat ini, termasuk didalam rumah masyarakat miskin sekalipun, sehingga kriteria miskin yang mencantumkan tidak memiliki kendaraan bermotor menjadi dilematis ketika pekerjaan rakyat miskin tersebut adalah tukang ojek.

Pro kontra terhadap suatu program kebijakan adalah wajar, namun alangkah bijaksananya agar ditimbang terlebih dahulu besar mana manfaatnya serta madharatnya bagi rakyat kecil. Bukan hanya dari sisi kepentingan kelompok tertentu saja. Saya yakin jika dikeluarkan kebijakan ini maka akan lebih menyengsarakan rakyat miskin dan menguntungkan para pengusaha dilihat dari analisa berikut :

Pertama, Jika dipandang pemerintah berpihak kepada operator angkutan umum plat kuning, karena hanya mereka yang masih dapat menikmati subsidi premium ini. Selama ini mereka mengeluh menurunnya pendapatan disebabkan minat penumpang kurang dan mahalnya onderdil. Maka pembatasan ini tak banyak mengubah animo masyarakat untuk berpindah menggunakan angkutan kota/desa dan taksi ( karena hanya 2 jenis ini yang pake premium) dengan alasan keamanan dari tangan usil copet dan pengamen serta ketepatan waktu karena lebih lama sampai ditempat tujuan disebabkan banyak berhenti (ngetem).

Daripada beralih ke angkot atau apalagi taksi lebih baik bayar lebih mahal membeli pertamax ditengah keterpaksaan karena tak ada pilihan lain.

Bagi angkutan lain sejenis bus tak ada persoalan karena menggunakan BBM solar. Saya lebih berpikir bagaimana pemerintah mengarahkan agar semua operator angkutan ini menggunakan solar agar tarif kendaraan umum lebih murah. Dan bagi para pengguna motor yang digunakan sebagai ojek agar ditertibkan dan diganti platnya menjadi kuning agar dapat menikmati fasilitas premium bersubsidi ini.

Kedua, Jumlah SPBU yang menyediakan pertamax masih terbatas, terutama di daerah karena biasanya hanya tersedia premium dan solar saja. Ini akan memicu antrian panjang pada SPBU yang menyediakan pertamax dan hilangnya penghasilan para SPBU penyedia premium karena sedikit penggunanya. Bisa jadi SPBU yang semula menyediakan premium akan beralih kepada pertamax, bila sebagian besar dilakukan pemilik SPBU maka memicu operator angkutan umum kesulitan mendapoatkan premium dan akhirnya terpaksa juga menggunakan pertamax dan konsekuensi logisnya pasti tarif akan naik. Kesempatan itulah yang ditunggu pemerintah untuk meniadakan seluruh premium di SPBU sebagaimana pemerintah telah menjalanakan konversi minyak tanah ke LPG sehingga minyak tanah menghilang kemudian dengan seenaknya harga LPG dinaikkan.

Ketiga, Bagaimana mekanisme pengawasan pemakaian premium ini, bisakah aparat terkait mengontrol secara ketat, masih banyak celah yang mesti ditambal. Para petugas SPBU saat ini masih dapat bermain mata melayani pembeli menggunakan drum dan derigen kemudian dijual eceran dalam botol literan. Bila hal ini terus berlanjut maka para penjula bensin eceran di jalanan pasti akan panen pembeli karena pengendara motor akan lebih memilih premium botolan ini karena selisih harga lebih murah daripada harus mengisi pertamax.

Keempat, Bagi pemilik mobil pribadi yang berbahan bakar premium akan berpikir ulang untuk pindah ke mobil yang berbahan bakar solar, bagi dunia otomotif tentunya menjadi angin surga karena akan mendongkrak penjualan mobil-mobil solar, dan negeri kita adalah pasar terbesar bagi dunia otomotif luar negeri.

Hingga saat ini belum ada langkah konkrit untuk mengalihkan ketergantungan terhadap minyak bumi kepada sumber energi non minyak bumi padahal negeri kita ini kaya akan sumber energi alternatif. Maka tak heran ketika harga minyak dunia naik maka buru-buru pemerintah mewacanakan kenaikan BBM padahal negara kita juga penghasil minyak dan mestinya menikmati kenaikan harga minyak dunia tersebut, kenapa juga sebaliknya menaikkan harga BBM dalam negeri ?????

Dari keempat uraian diatas manakah yang menguntungkan rakyat, jelas rakyat tidak akan mendapatkan keuntungan apapun yang didapat hanya kebingungan dan kesulitan. Jangankan tak punya uang untuk membeli BBM yang punya uangpun bakal kesulitan karena harus antri. Lantas inikah yang diharapkan pemerintah. Berpijak pada pengendalian jumlah motor hanya sebagai kamuflase saja alasan dibalik wacana ini dan dapat disimpulkan hanya menguntungkan kartel dan pemodal besar dan Kita masih melihat bahwa politik pembangunan kita masih berkutat pada pelestarian kemiskinan rakyat agar dapat menjadi dasar kucuran utang dari negara-negara donor. Seperti yang dilansir bang haji “ yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin” akan tetap bisa dinyanyikan setiap saat. Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s