DILEMATIKA MTQ

DILEMATIKA MTQ

Oleh : Ali Wahyuddin,S.Ag

Warga kabupaten Cirebon sebentar lagi akan menyaksikan perhelatan akbar Tahunan yang dikemas sebagai ajang putra-putri terbaik berlomba menunjukkan kebolehannya dalam penguasaan isi dan kandungan al-Qur’an yang dikemas dalam Musabaqah Tilawatil Qur’an ke 39 Tahun 2010 yanginsya Allah akan digelar di kecamatan Lemahabang Kabupaten Cirebon yan g direncanakan pada tanggal 22-27 Nopember 2010.

Bagi masyarakat MTQ bukan hal asing lagi. Dalam setiap level penyelenggaraan biasanya diawali dengan pawai ta’aruf sebagai awal perkenalan para kafilah mengikuti kegiatan ini, biasanya diwarnai dengan atraksi baik kesenian seperti marching band dan kesenian tradisional maupun wana-warni pakaian yangdikenakan dengan berbagai aksesoris untuk menarik perhatian penonton. Tak heran maka untuk pawai taaruf ini saja sudah membutuhkan dana yang tak sedikit, sementara urgensinya hanya seremonial belaka.

Berbeda dengan STQ atau Seleksi Tilawatil Qur’an yang tidak diadakan pawai ta’aruf dan tidak setiap cabang di lombakan. Biasanya berselang antara STQ dan MTQ tetapi dalam sepuluh tahun belakangan ini kabupaten Cirebon tidak lagi menyelenggarakan STQ tetapi setiap tahun menyelenggarakan MTQ, mengacu pada kebijakan LPTQ Jawa Barat yang setiap tahun menyelenggarakan MTQ. Namun tentunya kebijakan ini terkait erat dengan anggaran. Setiap tahunnnya pemerintah daerah mengeluarkan biaya yang besar untuk penyelenggaraan MTQ ini, tidak hanya untuk penyelenggaraan tingkat kabupaten yang diikuti oleh seluruh kafilah kecamatan, tetapi juga untuk pengiriman kafilah tingkat Provinsi yang juga setiap tahunnya diselenggarakan MTQ . Bahkan untuk tahun 2011 direncanakan pemda juga akan memberikan dana stimulan agar bisa diselenggarakan MTQ tingkat kecamatan dengan stimulan dana sebesar 15 juta rupiah untuk tiap kecamatan. Para pemangku kecamatan harus menyelenggarakan MTQ ini di bulan Mei 2011 dan tentunya dana stimulan tersebut tak cukup membiayai MTQ Kecamatan termasuk juga persiapan pengiriman kafilan tingkat Kabupaten.

Saya berharap tujuan mulia ini mencapai sasaran yang diharapkan, akan tetapi tidak serta merta begitu program diluncurkan lantas tujuan akan tercapai saat itu juga. Saat MTQ digelar pasti ada juara dari tiap cabang yang dilombakan, akan tetapi kalau kita lihat dan coba amati maka tak jauh berbeda dengan apa yang dihasilkan tahun sebelumnya. Yang muncul sebagai juara masih didominasi oleh wajah-wajah dan nama-nama lama yang setiap tahun ikut serta dan berusaha mempertahankan reputasinya demi bisa ikut pada level yang lebih tinggi lagi walau harus bergonta-ganti kecamatan yang mengirimkannya. Prestasi kabupaten Cirebon yang semakin terpuruk bukan tanpa sebab dan alasan karena dalam 4 tahun terakhir sudah dihilangkan praktek “ pemain asing” dalam kafilah MTQ kita dan menutup rapat-rapat mereka yang bukan warga kabupaten Cirebon untuk ikut serta sehingga praktis pemain lokal kita kalah bersaing dengan kabupaten lain yang secara kualitas lebih unggul dan terbina dengan baik. Sayangnya kebijakan ini hanya dianut beberapa kabupaten/kota saja di Jawa Barat sehingga para pialang masih bisa berkeliaran di kabupaten/kota lain untuk persaingan di tingkat provinsi.

Kebijakan tertutup ini sebetulnya berdampak baik bagi perkembangan MTQ kita, antar kecamatan mungkin masih bisa saling comot karena persebaran peserta dan kemampuan yang belum seimbang memungkinkan praktek saling comot antar kecamatan terjadi demi mempertahankan reputasi menjadi juara umum. Namun untuk perbaikankedepan tentunya harus ada solusi dan aturan yang baku agar masing-masing bisa mengelus jago hasil binaan kandang sendiri, maka pembinaan dan kaderisasi mutlak menjadi solusi jangka panjang dan akan menuai buahnya 3 atau 4 tahun kedepan.

Beberapa hari kebelakang tepanya tanggal 30 September2010 telah dilantik Bapak Bupati Cirebon sebuah susunan kepengurusan LPTQ Kabupaten periode 2010-2014 yang masih didominasi wajah lama dan beberapa wajah baru muncul. Tentunya banyak pekerjaan rumah bagi pengurus LPTQ ( kedepan berubah menjadi LPPTQ dengan singkatan Lembaga Pendidikan Pengembangan Tilawatil Qur’an) sesuai dengan amanat nomenklatur baru LPTQ menjadi LPPTQ yang mensiratkan adanya Pendidikan disamping pengembangan al-Qur’an.

Beberapa sumbangsih pola pemikiran berikut ini bisa menjadi bahan renungan bagi lembaga terkait dan institusi pemerintah daerah dalam penyelenggaraan MTQ sebagai berikut :

1. Penentuan lokasi kecamatan sebagai tuan rumah MTQ hendaknya diputuskan jauh-jauh hari atau bahkan bisa diumumkan sesaat setelah penutupan MTQ tahun berjalan, sehingga ada kesiapan matang bagi tuan rumah dan masyarakat di kecamatan tersebut berbenah menyambut MTQ tahun depan. Pola saat ini penunjukan tuan rumah ditentukan 1 atau 2 bulan sebelum hari H pelaksanaan MTQ sehingga persispan terlalu sempit dan terlihat kurang semarak karena kurang sosialisasi.

2. Ajang tahunan MTQ juga sebagai ajang pembuktian para alumni ponsok pesantren untuk menunjukkan kiprahnya dimasyarakat dan mengukur kemampuan santri dalam penguasaan bahan ajar di pondok, jadi selain diikuti oleh kafilah dari tiap-tiap kecamatan ( 40 Kecamatan) perlu juga diikutsertakan kafilah khusus dari pondok pesantren besar di Kabupaten Cirebon semisal Buntet, Babakan Ciwaringin, Gedongan, Kempek, dll dalam kafilah mandiri. Ini juga sebagai ajang promosi pesantren bersangkutan agar dikenal masyarakat luas. Atau juga perlu diberi kesempatan yang sama untuk ormas besar keagamaan seperti NU, Muhammadiyah, Persis, PUI, Al-Irsyad Al-Islamiyah dll untuk berkiprah dalam kafilah mandiri sebagai show ajang eksistensi lembaga.

3. Perlu juga digagas adanya pembatasan keikutsertaan peserta yang telah menjuarai salahsatu cabang agar regenerasi berjalan baik dan kejuaraan tidak berputar pada segelintir orang saja atau kelompok tertentu. Memang tak dapat dipungkiri karena iming-iming nilai hadiah menjadi magnet tersendiri.

4. Untuk lebih menjunjung obyektivitas hasil kejuaraan perlu dugagas pula pertukaran dewan hakim antar kabupaten/kota terdekat. Semisal untuk MTQ di kabupaten Cirebon mengambil juri dari Kota Cirebon. Dengan hal ini akan mengurangi subyektifitas dan kecenderungan guru dan murid dalam penilaian hasil lomba, terutama perlombaan dengan nilai tertutup.

5. LPTQ kedepan harus meninggalkan ketergantungan dana kepada pemda dan pengurusnya bisa diisi para professsional bukan oleh para birokrat seperti pola saat ini. Perlu digagas pula adanya “ bulan dana Qur’an” sebagaimana pula PMI menyelenggarakan bulan dana untuk menggugah partisipasi masyarakat terhadap pengembangan al-Qur’an.

Demikian semoga menjadi bahan dan kajian bagi pengembangan LPTQ dan penyelenggaraan MTQ yang lebih baik di tahun-tahun mendatang. Selamat berjuang para peserta MTQ ke 39 Tahun 2010 dan selamat bekerja dengan jujur para dewan hakimnya. Selamat datang di Kecamatan Lemahabang untuk membumikan al-Qur’an. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s